Bukti Kesenjangan & Faktor kegagalan dalam bisnis MLM


BUKTI KESENJANGAN & FAKTOR KEGAGALAN DALAM BISNIS MLM

Pada postingan sebelumnya, Anda telah belajar tentang apa itu Bisnis MLM. Selanjutnya Anda akan memahami BUKTI KESENJANGAN & FAKTOR KEGAGALAN DALAM BISNIS MLM.


Situasi dan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia secara umum adalah “kebutuhan hidup jauh lebih tinggi dari penghasilannya” namun justru disodori bisnis yang realitasnya (kebanyakan) adalah:

1. JANJI DAN IMING IMING KEMEWAHAN DI BISNIS MLM PADA TAHAP AWAL

a. Peringkat

i. Bisnis tidak mengenal peringkat, melainkan berapa omzet yang bisa diciptakan

ii. Tidak bisa menikmati bonus peringkat diatasnya

iii. Menuntut banyak syarat (tutup point setiap bulan, omzet dengan jumlah tertentu, PV, TGS, Kualified 3 bulan, Syarat kaki dll), untuk naik peringkat perlu syarat:

1. Minimal dua peringkat grup front line sama dengan peringkat up line

2. Mencapai target total poin minimal dua grup front line

3. Memiliki total poin grup side volume

4. Tutup Point

5. Salah satu syarat tidak dipenuhi maka tidak akan naik peringkat

iv. Jika terjadi break peringkat (Jika hanya 1 kaki peringkat downline anda menyamai peringkat anda):

1. Persentasi bonus up line dari total jaringan  yang sama peringkatnya adalah nol persen atau maksimal 1 % (drop), padahal jaringan justru semakin besar dan memerlukan biaya operasional yang lebih tinggi.

2. Agar tidak terjadi break:

a. Membeli point grup yang terlambat perkembangannya

b. Menelantarkan grup yang terlambat perkembangannya

c. Menunda posting grup yang terlambat perkembangannya

3. Downline yang ”ngebreak” anda, orang yang anda didik, anda support sejak awal, justru menjadi musuh utama anda (meskipun downline anda tidak menghendaki demikian), tetapi sistemlah yang memang tidak fair.

4. Jika tidak ada break peringkat, secepat apapun perkembangan downline anda tidak menjadi ancaman bagi anda (upline).

5. Up line berhenti menjadi seorang member dan trauma, padahal investasi  waktu dan  uang  sudah sangat besar

v. Peringkat mengakibatkan “POSISI PIRAMIDA SAMPAI KAPANPUN” (Orang yang diuntungkan yang paling atas dan yang paling memenuhi syarat). Perusahaan menunda pembayaran bonus jika menerapkan peringkat yang tinggi (Peringkat yang belum dicapai oleh member)

vi. Semakin tinggi peringkat, maka semakin besar persentasi bonus dari total omzet group, tetapi tidak otomatis bonus semakin besar, sebab masih tergantung omzet yang diciptakan. Biasanya yang dijual hanya “semakin tinggi peringat, maka semakin tinggi bonus”

vii. Semakin banyak peringkat didalam MLM, semakin banyak BONUS TERPANDING dan selanjutnya bonus yang diterima member justru semakin kecil, sebab setiap peringkat senantiasa ada syarat.

viii. Tidak mungkin seseorang member MLM dengan system peringkat, begitu masuk langsung mendapatkan posisi paling tinggi, serta memiliki jaringan yang banyak dan kuat. Dengan demikian tidak mungkin pula langsung menerima presentasi bonus yang tinggi (katakanlah 50%). Member MLM di peringkat awal biasanya menerima bonus jauh lebih kecil dari prosentasi keseluruhan jenis bonus yang dijanjikan.

Oleh sebab itu MLM dengan mempergunakan system peringkat, pada prinsipnya menunda-nunda pembayaran bonus bagi member, dan untuk memperoleh BONUS TERPANDING itu biasanya banyak syarat, dan jika member MLM tidak mampu memenuhi syarat, maka berbagai BONUS TERPANDING itu menjadi MILIK PERUSHAAN. Sungguh sangat tidak manusiawi!!!

ix. MLM dengan penerapan peringkat, diperlukan waktu yang lama, faktor kesulitan yang sangat tinggi, harus memenuhi berbagai syarat (yang biasanya kurasng difahami sejak awal) untuk memperoleh bonus.

MLM dengan TANPA PERINGKAT, kapanpun anda joint peluangnya sama dengan member-member sebelumnya, siapa yang mendatangkan omzet besar, maka akan mendapatkan bonus besar. Dalam MLM sistem peringkat, sebesar apapun omzet anda, jika tidak memenuhi syarat peringkat, maka bonus anda tidak akan pernah sesuai dengan omzet yang anda ciptakan.

x. Anekdot “Pangkat Jendral, Gajih Kopral” (Jika peringkat tinggi, tetapi jaringan rontok)

xi. Setinggi apapun peringkat seseorang, tetaplah seorang DISTRIBUTOR!

xii. Peringkat adalah MOTIVASI SEMU (Kembang Gula berisi Racun/ Marketing Trap), hanya mendapat ”gagah saja”, bonus belum tentu!

B. Reward

i. Reward biasanya dalam bentuk motor, mobil, rumah, tour dll

ii. Reward pada hakekatnya hasil keringat member yang diberikannya ditunda (Bonus yang terpanding), tetapi bonus yang terpanding itu untuk mendopping, memotivasi member itu sendiri.

iii. Member Network Marketing didopping dengan hasil keringat sendiri. Sebuah analogy: Kuda yang menggiling tebu atau menarik dokar, diatas kepalanya diberikan “reward” yang berupa rumput, krincingan dll yang berfungsi untuk merangsang kuda untuk bekerja keras.

Jika kuda, reward diberikan oleh majikannya, sedangkan pemain MLM reward dari hasil keringatnya sendiri. Pemain MLM dianggap lebih bodoh dari kuda (DIKUDAI!!!).

iv. Ilustrasi: Omzet Rp  6 Milyar misalnya seseorang akan mendapat Mobil (senilai Rp 300 juta). Bagaimana kalau omzet mencapai Rp 5,5 Milyar? Mestinya setidaknya menerima uang atau produk senilai misalnya Rp 200 juta. TERNYATA (BONUS YANG TERTUNDA TADI) MENJADI MILIK PERUSAHAAN (SIC!)! Maka bagi kebanyakan orang “Bonus reward = Bonus diatas kertas”

v. Reward adalah hasil akhir, untuk memperolehnya tidaklah mudah dan syaratnya macam-macam

vi. Reward membuka peluang kepada perusahaan menetapkan syarat syarat yang tidak diberitahu pada tahap awal

vii. Syarat-syarat untuk memperoleh reward antara lain:

1. Peringkat

2. Jumlah grup front line

3. Total omzet point setiap grup front line

4. Side volume

5. Tutup Point

6. Salah satu dari 5 syarat tidak terpenuhi maka reward tidak dapat di peroleh

viii. Produk Reward belum tentu sesuai dengan keinginan member sendiri (misalnya kesukaannya Baleno tetapi terpaksa harus menerima FORTUNER, atau kebutuhannya 10 mobil angkot tetapi terpaksa harus menerima mobil FORTUNER)

ix. Jika perusahaan mendatangkan/berbelanja beberapa motor, mobil, rumah, penyelenggaraan tour dll tentulah mendapatkan keuntungan lagi, dan keuntungan itu tentulah tidak dibagikan ke member, melainkan justru menambah keuntungan bagi perusahaan. Oleh sebab itulah Reward biasanya tidak bisa ditukar (memang ada juga MLM yang rewardnya bias diuangkan).

x. Reward adalah Motivasi Semu (Kembang Gula berisi Racun/Marketing Trap)

xi. BONUS MLM dalam bentuk CASH dan REWARD (bersyarat dan ditunda). Sebaiknya kita mencari MLM yang segala imbalannya dibayar secara CASH.

xii. Member MLM membutuhkan uang cash untuk:

1. Bisa makan sehari-hari

2. Modal kerja berikutnya (biaya operasional)

3. Jika sisa lagi, terserah member, member lebih mengetahui kebutuhannya sendiri!

xiii. Lebih baik member sendiri yang menabung hasil jerih payahnya sendiri daripada disimpan perusahaan tetapi sekaligus dijadikan alat untuk memotivasi kita/member. Dan jika tidak memenuhi syarat, akumulasi omzet menjadi milik perusahaan!!!

C. Pasive Income & Bonus Sharing (benarkah ada?)

i. Syarat Syarat Pasif Income & Bonus Sharing

1. Memiliki peringkat tertentu

2. Total omzet perusahaan hanya diketahui perusahaan (tidak transparan). Ctt: Ajaran “No Crosslining” pada intinya “agar tidak saling menyampaikan keluhan” sehingga jaringan sama-sama bisa loyo dan berhenti.

3. Point omzet group harus ada (tetap bekerja mengembangkan jaringan)

4. Tutup point

5. Side volume (tetap harus bekerja, atau terpaksa mengeluarkan uang untuk investasi/untuk mencapai bonus Pasif/Sharing)

ii. Pasif Income Adalah Hasil Akhir

2. MARKETING PLAN YANG BERPIHAK KEPADA PENGUSAHA DIMANA MEMBER MENJADI OBJEK

A. Pembayaran Bonus Yang Terlalu Lama

i. Pembayaran bonus yang terlalu lama mengakibatkan ke arah investasi. Member keluar  modal awal ketika joint (katakanlah awal bulan), keluar biaya dan tenaga setiap hari, harus tutup point diakhir bulan, setelah tutup point masih harus bekerja lagi, baru pertengahan bulan menerima bonus. Kesemuanya itu mengakibatkan member MLM (kehabisan energi, biaya dan banyak hal lainnya), maka hampir semua MLM diperlukan motivasi-motivasi yang sering tidak realistis.

ii. Pembayaran bonus yang terlalu lama menciptakan ketidak seimbangan antara member dengan perusahaan. Member setiap saat mengeluarkan biaya, tenaga, fikiran demi terciptanya omzet, sementara perusahaan setiap hari mendapatkan omzet yang berarti juga memperoleh keuntungan.

iii. Pola Investasi hanyalah cocok bagi kondisi masyarakat yang serba berkecukupan (masyarakat negara maju), sedangkan masyarakat Indonesia umumnya kebutuhan lebih besar daripada income, maka ikut MLM maksudnya mencari solusi finansial, ternyata malahan investasi, maka “timbangan kebutuhan dengan income” justru semakin jomplang. Tetapi kondisi sedemikian tidak diketahui/disadari sejak awal, bahkan terus menerus berusaha “mengejar impian” (sebab ketidak tahuan), maka mengakibatkan banyak orang yang frustasi.

Biasanya para leader hanya berkonsentrasi pada BONUS, bukan BIAYA OPERASIONAL para downlinenya. Para Upline terus menerus memotivasi Downline dengan analisa perkembangan bonus dan tidak dihubungkan dengan biaya operasional (padahal ditahap awal, tentulah biaya operasional jauh lebih tinggi daripada bonus)

iv. Member bekerja selama 1 ½ bulan (atau lebih), tetapi perhitungan omzet/bonus yang dibayarkan 1 bulan

v. Member MLM memerlukan waktu yang lama untuk mencapai Balik Modal (BEP), sementara para leader/perusahaan hanya mem-blow up, perkembangan bonus

vi. Kemewahan, kebebasan finansial adalah hasil akhir. Dibutuhkan waktu, modal uang yang cukup besar untuk memperoleh semua impian di mlm

vii. Untuk bisa menjadi SOLUSI FINANSIAL, MLM harus membayar bonus secepat mungkin, secepat perusahaan menerima omzet dan keuntungan! (BAYARLAH UPAH BURUH SEBELUM KERING KERINGATNYA!!!)

B. Tutup Poin Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Bonus (satu-satunya syarat untuk memperoleh hasil adalah BEKERJA, tidak boleh ada syarat lain, tutup point merupakan syarat tambahan yang sangat tidak adil bagi member MLM)

i. Belanja Wajib setiap bulan sebagai syarat mengambil bonus. Jika tidak tutup point di akhir bulan, maka tidak akan mendapatkan bonus di bulan yang harus dilakukan tutup point itu, dibulan berikutnya. Ctt. Untuk memperoleh hasil satu-satunya syarat hanyalah bekerja (mendatangkan omzet ke perusahaan), jika ada syarat selain itu, maka itulah jebakan marketing (marketing trap)

ii. Repeat Order,  belanja tiap bulan tetapi tidak sebagai syarat mengambil bonus (belanja dilakukan hanya jika member memperoleh bonus, dan besarnya tidak boleh melampoi besarnya bonus)

iii. Repeat Order harus dilakukan oleh semua member, jika sudah mendapatkan bonus

iv. Repeat Order tidak boleh melebihi besarnya Bonus

v. Tupo = Kezaliman, Repeat Order = Fair (Dapat bonus Rp 10 juta, wajib tutup point (repeat order/belanja ulang)  misalnya Rp 250.000,-, maka senilai Rp 250.000 diberikan dalam bentuk barang, dan Rp 9.750.000,- dalam bentuk uang.). Tutup point = Syarat untuk mengambil bonus. Reapeat Order = Akibat dari memperoleh bonus.

vi. Sering terjadi uang untuk tupo lebih besar dari bonus yang diterima

vii. Efek Gambling tupo adalah, jika seseorang menyangka para downline melakukan tupo ternyata tidak. Mengeluarkan uang dengan harapan mendapat bonus yang tidak diketahui jumlahnya.

viii. Tupo mengakibatkan kerja tambahan (ngejar-ngejar downline agar tupo)

ix. Tupo sering mengakibatkan barang bertumpuk, sebab terpaksa harus belanja meski barang masih ada, demi mendapatkan bonus.

x. Tupo dengan demikian mengakibatkan produk bertumpuk, dan terpaksa jualan, dengan demikian terpaksa menjadi sales (Tetap di quadrant kiri!). Menjadi karyawan MLM tidak terasa.

xi. Dikebanyakan MLM memberlakukan Tutup Point (Tupo), tetapi tidak ada bonus tupo, sungguh tidak manusiawi!

C. Perhitungan Bonus Yang Rumit Sehingga Menimbulkan Banyak Jebakan

i. Perhitungan bonus berdasarkan poin produk yang dikonversi ke nilai uang ( sekitar 40 % s/d 65 % dari nilai uang )

ii. Perhitungan bonus berdasarkan persentasi posisi peringkat member

iii. Perhitungan bonus berdasarkan jumlah point grup front line

iv. Perhitungan bonus berdasarkan pembatasan batas level

v. Perhitungan bonus berdasarkan total tutup poin pribadi dan tutup poin seluruh grup

vi. Perhitungan bonus berdasarkan total omzet perusahaan

vii. Seluruh perhitungan tersebut (1 s/d 6) harus senergy

viii. Perhitungan bonus yang rumit akan mengakibatkan :

1. Member tidak mengetahui secara pasti total bonus yang di terima sebelum ada statement bonus dari perusahaan

2. Member kesulitan untuk mempresentasikan perhitungan bonus saat presentasi

3. Member melakukan presentasi dengan reward, peringkat dan bonus (tanpa detail)

ix. Beberapa poin yang harus diketahui

1. Semakin banyak jenis bonus dan sistem perhitungan akan semakin menyulitkan setiap member

2. Besar kecilnya total bonus member tidak tergantung kepada banyaknya jenis bonus

3. Semakin banyak jenis bonus akan semakin rumit perhitungan dan semakin banyak jebakan yang tidak diketahui member (semakin ada peluang bagi perusahaan untuk menetapkan berbagai syarat yang tidak difahami member)

4. Jenis bonus di sistem mlm hanya ada tiga jenis (sebagaimana terlihat dibawah ini), jika lebih biasanya 3 point dibawah ini dipecah-pecah lagi, yang biasanya merupakan jebakan.

Jenis bonus sedikit, semakin sulit perusahaan menciptakan jebakan-jebakan. Bisnis, perhitungan bonus-bonus mestinya sederhana, kenapa selama ini dibuat sulit oleh perusahaan? Padahal perusahaan membuat marketing plan yang rumit sungguh tidak mudah, diperlukan konsultan yang hebat dengan biaya yang sangat mahal, tetapi kenapa hal itu dilakukan?

a. Bonus mengajak ( omzet baru )

b. Bonus perkembangan jaringan ( omzet baru )

c. Bonus belanja ulang ( repeat order )

x. Lazimnya bisnis, semakin tinggi omzet maka semakin besar keuntungan, ternyata dalam MLM belum tentu, sebab sangat tergantung pada hal-hal berikut:

1. Break Away (Syarat Selisih Peringkat Antara Upline dengan Downline)

2. Batas Level (Jika Level dibatasi hingga 10, maka level ke 11 sudah tidak ada efek buat Upline)

3. Batas Waktu (Omzet bulan sebelumnya tidak diakui di bulan berikutnya)

4. Syarat Kaki (meski omzet memenuhi dan bahkan puluhan kali lipat dari yang ditentukan, jika tidak memenuhi syarat sebaran kaki, tetap tidak menerima bonus/reward)

3. MENJADI MEMBER PERUSAHAAN MONEY GAME

a. Perusahaan money game sebuah perusahaan pembohong yang pasti akan merugikan jaringan anda karena pasti perusahaan tidak akan bertahan lama

b. Setiap member yang bergabung akan membayar sejumlah uang tanpa memperoleh pruduk yang sepadan

c. Keuntungan perusahaan jauh lebih besar dari keuntungan member
d. Tanggung jawab uang dan moral ada pada member

4. MENGIKUTI PETUALANG-PETUALANG MLM 

a. Petualang-petualang mlm akan selalu berganti ganti mlm tanpa alasan yang jelas (biasanya mendaur ulang para downline)

b. Selalu berpikir mengetahui dan mengerti mlm padahal sebagai korban dan objek perusahaan

c. Selalu menyalahkan perusahaan padahal karena tidak memiliki kemampuan

d. Petualang selalu berbicara iming-iming  kepada masyarakat

e. Mengorbankan jaringan demi kepentingan pribadi dan alasan pribadi


KENAPA MASYARAKAT MESTI MEMILIH DALAM BISNIS MLM


Produk MLM umumnya bagus (Sertifikat Nasional POM maupun Internasional seperti FDA, HACCP, GMP dll)

Jika produknya bagus dan kita cocok dan bahkan mungkin sangat memerlukan, apakah sudah cukup alasan untuk kita jalankan bisnisnya? Belum!

Seorang bakul tahu yang sukses ingin membeli sepeda motor, tentulah tidak usah ”bakul sepeda motor”, tinggal beli saja (jika hanya orientasi produk).

Keuntungan Member MLM Dimanapun Sama

Di semua MLM memberikan discount harga produk bagi para membernya

Disemua MLM menemukan sahabat yang tanpa batas, tanpa mengenal perbedaan status, RAS dll

Di semua MLM saling bantu membantu

Member memiliki kebebasan waktu bekerja

Member memperoleh berbagai pelatihan baik dari perusahaan mupun dari group leader

Di kebanyakan MLM memiliki “Business School” yang bagus

Lebih baik mengikuti kursus bisnis atau kursus kepribadian yang sudah jelas berkualitas

Tugas Member MLM Sama

Menjadi wajah produk

Di semua MLM, member harus memprospek orang dan juga membina jaringan

Kriteria/Parameter apa agar member MLM menjadi SUBJEK daripada OBJEK perusahaan MLM?


PILIH MLM YANG MANA?


OBJEK VS SUBJEK

Member dibangun oleh para leader, namun kebanyakan akhirnya menjadi milik perusahaan

Member tidak berdaya jika terjadi perubahan produk (penambahan/pengurangan), marketing plan dan berbagai kebijakan lain. Pejah gesang nderek perusahaan X

Pengusaha & Member, hanyalah partner bisnis, jika saling tidak nyaman bias berganti partner

Member jauh lebih memiliki bargaining power dibanding perusahaan. Jika seseorang memiliki jaringan 10 ribu orang saja, maka perusahaan akan mencari leader tersebut.

EMPAT PILAR MEMILIH MLM


1. PROFIL & PERIJINAN  PERUSAHAAN 

1. Perusahaan yang didukung oleh pabrik atau dana yang cukup ( Pengusaha yang tidak coba coba )

2. Ijin perusahaan MLM (Perusahaan MLM harus memiliki 3 ijin) :

2.1. SIUP adalah ijin perusahaan

2.2. IUPB ( Ijin Usaha Penjualan Berjenjang ) yaitu ijin khusus yang dikeluarkan Department Perdagangan untuk ijin perusahaan MLM

2.3. Ijin produk. Produk produk perusahaan MLM terutama produk makanan dan minuman kesehatan harus memiliki ijin khusus dari Badan POM yang merupakan jaminan bagi masyarakat Indonesia bahwa produk tersebut aman untuk di konsumsi masyarakat. Jika ijin produk belum ada dari Dirjen POM maka produk tersebut tidak legal dan tidak aman untuk dikonsumsi

2. PRODUK (JIKA PRODUK MAKANAN/MINUMAN KESEHATAN)

1. Produk perusahaan MLM sebagai kunci awal kenderaan penghubung antara member dengan calon prospek serta produk menjadi parameter bagi calon member sehingga tidak terjebak kedalam sistem money game

2. Produk produk dengan kualitas yang baik

3. Produk dengan harga yang realistis

4. Produk di pakai secara berulang (consumable)

5. Khusus untuk produk produk produk makanan kesehatan

6. Mampu membantu penyembuhan berbagai penyakit yang diderita masyarakat

7. Reaksi efek lebih cepat di bandingkan produk retail

3. MARKETING PLAN

1. Kecepatan pembayaran bonus (semakin cepat bonus di bayar semakin baik untuk member)

2. Pembayaran bonus tanpa syarat belanja ulang ( tutup poin )

3. Jenis dan perhitungan bonus yang sederhana ( meminimalisasi syarat syarat yang di tetapkan oleh perusahaan ) dan transparansi yang tinggi

4. Besar kecilnya persentasi bonus yang diterima oleh member

5. Tingkat probabilitas keberhasilan bisnis

4. LEADERS & SUPPORT SYSTEM

1. Team leaders yang cerdas, tangguh, komitment, jujur serta memiliki integritas membantu seluruh jaringan

2. Team leaders mampu memberikan pembelajaran edifikasi dan duplikasi yang benar, transparan, cerdas kepada seluruh jaringan sehingga tidak menjadi objek perusahaan MLM melainkan subyek

3. Team leaders yang mampu menciptakan support system sebagai alat duplikasi, edifikasi, pembelajaran bisnis MLM serta cara membangun jaringan secara efektif & evisien dengan tanpa hanya motivasi yang tidak realistis

4. Support system harus berfungsi sebagaimana proporsinya (system yang mensupport jaringan) dan tidak menjadi ajang bisnis sampingan para leader

Catatan: Barangkali suatu saat WEBSITE akan menjadi pilar yang ke 5, sebab hanya melalui Web-lah seorang member (sebagai Independen Bussiness Owner/I.B.O) bisa mengontrol seluruh aktifitas bisnisnya, mulai dari omzet, aneka jenis bonus, dari siapa saja datangnya, kapan saja datangnya, bagaimana perhitungannya, alat kontrol perencanaan bisnis dll.

MLM BONUS BESAR (AMAN), CEPAT, TANPA SYARAT & TRANSPARAN

Alat bantu lain yang cukup sederhana adalah “JIKA ANDA MENJUMPAI BISNIS MLM YANG TERBEBAS DARI PEMBAHASAN DIATAS TERSEBUT (BUKTI KESENJANGAN DAN FAKTOR KEGAGALAN), SUDAH SANGAT BAGUS”.

SECARA UMUM PRODUK SULIT DIBANDINGKAN, BIASANYA PRODUK MLM KUALITASNYA MEMANG SANGAT BAGUS, DAN SESEORANG JUGA TIDAK BISA OVER CLAIM ATAU BAHKAN MENJELEK-JELEKKAN PRODUK MLM LAIN.  TETAPI MARKETING PLAN PERLU ANDA BANDINGKAN SECARA SETELITI MUNGKIN, MISALNYA (DENGAN OMZET YANG SAMA, MISALNYA Rp 10.000,-):

PERUSAHAAN A
1. Bonus Rp 2.000,- (Riil dan bukan dari PV)
2. Dibayarkan harian
3. Tanpa syarat tupo, side vomule, kualifikasi dll
4. Marketing Plan sangat sederhana (Transparansi bonus dan jaringan secara detail)
5. Probabilitas keberhasilan tinggi

PERUSAHAAN B
1. Bonus Rp 1.000,-
2. Dibayarkan Mingguan
3. Sedikit syarat (misalnya hanya tupo)
4. Marketing Plan agak rumit (Ada transparansi tetapi tidak detail)
5. Probabilitas Keberhasilan Sedang

PERUSAHAAN C
1. Bonus Rp 500,-
2. Dibayarkan Bulanan
3. Banyak syarat (tupo, side vomule, kualifikasi dll)
4. Marketing Plan sangat rumit (Tidak transparan)
5. Probabilitas Keberhasilan Rendah

Jika anda sudah mampu membuat analisis seperti itu, mudah sekali memilihnya bukan? Sebagai manusia yang normal, tentu anda akan memilih perusahaan A. Berusahalah membuat analisis pribadi, hilangkan semua brainwashing dari para Upline/Leader anda, dan jawablah secara jujur, meski didalam hati.

Banyak MLM yang memiliki produk bagus, di semua MLM bisa menemukan sahabat yang sangat banyak, dan juga bisa membantu orang lain. Di semua MLM kerjanya sama yaitu memprospek orang lain, dan membina mereka (membina jaringan). Di kebanyakan MLM memiliki business school yang bagus, bahkan ada MLM yang cenderung hanya mengutamakan “business school” dan melupakan banyak hal penting lainnya.

Lalu apa yang membedakan satu sama lain sehingga masyarakat bisa MEMILIH, dan selanjutnya masyarakat tidak hanya menjadi OBJEK perusahaan MLM melainkan menjadi SUBJEK?

Tidak lain, adalah MARKETING PLAN yaitu seberapa besar anda dibayar? (Semakin besar semakin baik). Seberapa cepat anda dibayar? (semakin cepat semakin baik). Bagaimana anda dibayar (Apa syaratnya?), semakin tidak ada syarat (Tupo, TGS, Side Volume, Syarat kaki dll) tentulah semakin baik. Bagaimana transparansi bisnisnya? Bagaimana tingkat probabilitas keberhasilannya?

Mari kita lihat analogy David Beckham Vs Kurniawan:
1. Sama-sama pemain bola, artinya kerjanya sama-sama nendangi bola, capeknya kurang lebih sama
2. Ukuran bola, ukuran gawang, luas lapangan, waktu bermain, jumlah rekan bermain, semuanya sama.
3. Apa pembedanya? Tentulah bayaran David Beckham jauh lebih besar daripada Kurniawan.

CARA YANG LEBIH SEDERHANA, COBALAH ANDA BUAT ANALISIS SEDERHANA TERHADAP BISNIS YANG ANDA LAKUKAN:

1. Apakah biaya operasional lebih tinggi dari bonus yang anda terima?

2. Apakah biaya operasional sama dengan bonus yang anda terima?

3. Apakah biaya operasional lebih rendah dari bonus yang anda terima?

JIKA JAWABAN ANDA PADA NOMOR 3, BERARTI BISNIS MLM YANG ANDA LAKUKAN MASIH LAYAK ANDA KERJAKAN, NAMUN SAYA LEBIH MENYARANKAN IKUTLAH BISNIS YANG MEMBAYAR ANDA BESAR, CEPAT, TANPA SYARAT (TUPO DLL), TRANSPARAN DALAM REPORT BISNISNYA, AGAR PROBABILITAS KEBERHASILAN ANDA TINGGI.


JIKA OMZET  DARI 3 SUMBER, MESTINYA BONUS JUGA HANYA 3 JENIS

Seseorang mendapat bonus, tentulah jika orang tersebut berprestasi. Prestasi dalam bisnis secara umum (khususnya MLM) adalah seberapa banyak omzet orang tersebut bersama groupnya tunjukan kepada perusahaan.  Omzet dalam MLM antara lain:

1. Omzet mengajak (sponsoring). Jika seseorang (A) mengajak orang lain (B) dan orang lain tersebut join, maka A telah mendatangkan omzet buat perusahaan. Maka A layak mendapatkan bonus, yaitu Bonus Sponsor.

2. Omzet pembinaan/pengembangan jaringan. Jika (A) mengajarkan pada (B), sehingga B mampu mengajak orang lain lagi (C). Maka (A dan B) berjasa mendatangkan omzet buat perusahaan. Bagi (B) mendatangkan omzet Sponsoring, maka layak mendapatkan bonus sponsor dan bagi (A), mendatangkan omzet perkembangan jaringan, maka (A) layak mendapatkan bonus perkembangan jaringan.

3. Omzet belanja ulang. Jika A, B dan C melakukan belanja ulang, maka mereka berjasa telah mendatangkan omzet belanja ulang, maka mereka layak mendapatkan bonus belanja ulang.

Jika MLM memberikan jenis bonus lebih dari 3, maka layak dipertanyakan, sebab jika seseorang menjadi pengusaha umumnya ingin mengajih karyawan serendah-rendahnya, sementara jikaseseorang menjadi buruh umumnya menghendaki gajih setinggi-tingginya. Oleh sebab itu kebanyakan antara buruh dengan pengusaha, senantiasa bersetru sebab memang memiliki perbedaan kepentingan.

Sungguh layak dipertanyakan jika pengusaha yang umumnya ingin menggajih karyawan serendah-rendahnya, justru menawarkan berbagai jenis bonus yang banyak. Semakin banyak jenis bonus, tentulah semakin rumit penghitungannya, tetapi kenapa hal itu dilakukan oleh perusahaan? Tiada lain adalah

1. Untuk menjebak member agar tidak merasa bahwa bonusnya sebenarnya kecil,

2. Untuk menunda-nunda pembayaran bonus dengan cara membagi 3 jenis bonus diatas dipecah-pecah menjadi berbagai jenis yang lebih banyak dan masing-masing jenis bonus senantiasa bersyarat.

3. Untuk menetapkan berbagai syarat perolehan bonus yang tidak diketahui oleh member sejak awal dll

4. Jika jenis bonus hanya 3 diatas, maka member tidak bisa dibohongi/dijebak dll



KESIMPULAN

MLM secara konsep sangat bagus, namun secara realitas kebanyakan justru terlalu membebani masyarakat (terlalu banyak mengandung faktor kesenjangan dan bahkan jebakan), oleh sebab itu perlu memilih MLM

Sebaiknya tidak ikut MLM dengan iming-iming kemewahan ditahap awal seperti peringkat, reward, pasif income dan bonus sharing internasional dll

Sebaiknya tidak ikut MLM yang profit sharingnya terlalu memihak ke perusahaan seperti  syarat Tupo untuk menebus bonus, pembayaran bonus yang terlalu lama (pola investasi), perhitungan bonus yang terlalu rumit sehingga mengandung banyak sekali jebakan

Omzet dalam MLM hanya ada 3 jenis (sponsoring, perkembangan jaringan dan belanja ulang), mestinya bonus juga hanya 3 jenis
Parameter memilih MLM antara lain profile dan perizinan perusahaan MLM, produk, marketing plan, leader & support system (barangkali suatu saat website menjadi parameter ke 5) sebab hanya melalui Web-lah seorang member (sebagai Independen Bussiness Owner/I.B.O) bisa mengontrol seluruh aktifitas bisnisnya, mulai dari omzet, aneka jenis bonus, dari siapa saja datangnya, kapan saja datangnya, bagaimana perhitungannya, alat kontrol perencanaan bisnis dll.

Sebaiknya ikut MLM yang kerjanya relatif ringan, bonus dibayar besar (tetapi perusahaan tetap aman), bonus dibayar cepat, bonus dibayar dengan tanpa syarat apapun (kecuali kerja), bonus dibayar dengan transparan, dibayar dengan jenis bonus yang minimal tetapi dengan optimal jumlahnya, probabilitas keberhasilan tinggi dan mengajari untuk tidak fanatik! (Perusahaan Type A). Jadilah David Beckham daripada Kurniawan!

KRITIK DAN SARAN YANG KONSTRUKTIF DARI (HAND OUT) MAKALAH INI SANGAT SAYA SYUKURI.

Semoga Anda (Kita Semua) Menjumpai Bisnis Network Marketing, yang “Untung Menguntungkan” antara Perusahaan dengan Distributor, Distributor dengan Distributor.

Sederhana, 21.09.2006
Bambang Jasnanto

Nulisiklan.com

No comments for "Bukti Kesenjangan & Faktor kegagalan dalam bisnis MLM"

Berlangganan via Email